Taste

September 24, 2011

Mainstream. Indie. ...the fuck?

Pasti sering denger beberapa orang atau temen kita ngebahas tentang seleranya sendiri atau orang lain menyangkut beberapa hal. Kaya musik, trend fashion, games, penyanyi, aktor, makanan, design rumah, sampe jenis dan ukuran tete. Mereka mengutarakan banyak hal sesuai selera mereka. Ada yang bodo amat suka banget sama sesuatu yang 'mainstream', tapi ga sedikit juga yang meng-claim kalo dia itu anak 'indie' abes nyhietz.

Si 'anak mainstream' (kita singkat dengan AM. bukan yang bikin mabok tapi.) biasanya suka sama sesuatu yang umum dan common disukai sama orang lain. Sedangkan si 'anak indie' (kita singkat dengan AI. Ai? Ay? "Ay kamu udah makan belum Ay? Uuuh miss u ilysm <3") biasanya suka sama hal-hal yang aneh, nyentrik, ga biasa, dan ga pernah diketahui orang lain. Kayanya harus ada label nempel di jidat masing-masing gitu. Well, emang ga semua spesies manusia di dunia, atau Indonesia kaya gitu. Cuma yang bikin gerah ya yang label-whore kaya gini aja sih.

Pertama si AM ini biasanya terlihat sebagai bukti nyata kalo banyak orang yang bisa dan mau menentang stereotype orang-orang kaya AI. Mereka yang secara terang-terangan bilang kalo "eh gue suka 'anu'! bodo amat lo bilang apa soal si 'anu'. mau kampung kek, cheesy bin tacky kek, mau pasaran kek. bo'am! yang penting gue demen!" Karena 'anu' biasanya diejek-ejek sama AI yang berpendapat bahwa "ih ngapain sih ni makhluk di bumi ini? ga ada taste! ga kelas! udah sejuta biji saingannya deh, gak orisinil." Dan pendapat-pendapat lainnya yang saling bertentangan.

Argumen dari kedua belah pihak terdengar sangat idealis. Mereka, AM & AI, saling berpegang teguh sama kesukaan mereka masing-masing. Hal itu sangat bagus menurut gue karena menunjukkan kebebasan berpendapat dan memilih. Gue setuju banget sama sesuatu yang berasal dari hati nurani pribadi masing-masing, selama itu bertanggung jawab dan ga mengusik orang lain. Itu kaya memperlihatkan kalo orang tersebut punya personal judgement tentang sesuatu, yang menandakan kalo dia punya jiwa yang bebas dan merdeka. Tapi semua akan berubah jadi ganggu kalo mereka mulai ngotot dan maksa. Ganggu banget.

Gue pribadi bukannya mau jadi uptight bastard yang kerjaannya ngatur dan ngurusin orang lain. Sumpah gue ga peduli lo mau suka sama kerupuk warnanya one-of-a-kind ataupun warna yang lagi nge-hip. Tapi gue akan jadi 'peduli' ketika kerupuk lo mengganggu gue. Ya jadi kalo mau mengagumi sesuatu atau seseorang ya kagumi lah. Sukailah. Tapi jangan merendahkan atau mengurangi esensi sesuatu yang dikagumi orang lain. Simpen aja sendiri. Maknai sendiri. Biarkan orang lain juga melakukan hal yang sama.

Tapi banyak banget juga orang yang kaya AM & AI tapi yaudah, mereka aja yang tau. Suka boyband kaya SM*SH ya dengerin aja lagunya. Suka band yang jarang didenger kaya !!!, Passion Pit, The xx, The Toilet, The Titit, The Tete, dan The The yang lain, yaudah didengerin aja. Ga dipamer-pamerin atau di banding-bandingin sama orang lain. Saling menghargai aja karena mereka tau kalo mereka beda sama orang lain.

Selera orang kan beda-beda ya. Kadar kepuasan orang dalam meng-indera-i sesuatu juga beda-beda. Kalo AM suka sama musik-musik dangdut melayu yang katanya kampungan dan jelek, ya udahlah terserah mereka. Mungkin mereka udah puas banget ngedengerin musik tersebut. Terlepas dari fakta kalo mereka jarang atau bahkan ga pernah disuguhi musik-musik 'kelas' kaya jazz, blues, post-rock, shoegaze, alternative-trip-hop-funky-reggae-hop-hop-pop, dll. Jangan langsung di tuduh kalo mereka ga punya selera dan ga pantes buat ngaku penikmat musik. Sekali lagi gue bukan nyuruh atau ngelarang untuk berbuat sesuatu ya. I'm trying so hard to give a fuck about whatever you do, people. But I just can't. So don't worry. :)

Oh, here's an idea. Coba ya kalo ada situasi kaya gini: Perfilman Indonesia dinilai buruk karena didominasi film-film horor kacangan yang lebih kaya film porno dengan hantu sebagai cameo. Jujur, gue juga kecewa dan ga suka film kaya gitu. Tapi gue ga pernah ngatain orang yang suka (gatau ya kalo ada yang suka, sampe sekarang sih gue belom pernah punya temen yang ngaku suka) sama film itu. Gue memilih untuk diam dan nyari film lain yang lebih baik menurut standard gue. Nah, film horor kaya gitu kan dibuat sama produser yang berpikir kalo selera masyarakat Indo yang 'berpotensi' nonton akan banyak. Selera pasar di sini mungkin dinilai memenuhi kriteria di atas. Jadilah dibombardir sama produksi-produksi film kaya gitu. Jadi banyak dan berjamur. Film 'bagus' lainnya kalah saing. Jadinya mainstream.

Sekarang kalo situasinya dibalik gimana? Misalkan film bagus kaya menurut gue film-film nya Joko Anwar & Gareth Evans mulai diminati dan menginspirasi kaum muda lainnya untuk membuat film-film dengan standard sejenis. AMIN YA ALLAH. Lalu pasti film 'kacangan' sebelumnya akan redup karena kalah saing. Kalah BANYAK. Jadi sedikit. Mayoritas memilih film 'bagus'. Sekarang penggemar film horor porno itu jadi minoritas. Nah, sekarang siapa yang mainstream?

Jadi kalo udah gitu film kaya Pintu Terlarang & The Raid yang menang banyak awards di ajang perfilman internasional jadi 'gak kelas' karena jadi mainstream? Hahaha. Yang berkualitas yang setan-setan senggol jilat atas keramas bawah kubur itu? Ga juga kan?

Berarti ukuran selera orang-orang akan sesuatu beda. Ga bisa disamain. Ga bisa di judge cuma karena film itu, atau musik itu mainstream atau nggak. Masa iya band indie kaya Gugun and The Blues Shelter yang tiba-tiba gimana caranya misalkan digandrungi 90% penduduk Indonesia, trus jadi mainstream bisa dibilang pasaran & kampungan? (Abaikan Jono yang jadi host Dahsyat.)

p.s. Sekali lagi ini cuma pemikiran iseng aja. Jangan dimasukin hati ya kalo ada yang kesindir. :p

You Might Also Like

0 comments