HOME     DANCE     F&B     FASHION     IDEAS     OUTFIT     MUSIC     PERSONAL     PORTFOLIO     TRAVEL



August 30, 2011

Hilal Oh Hilal

"Ga jadi lebaran besok. Ibu-ibu dan gulainya. Anak muda dan akun Twitter-nya."

Perihal hilal yang 'katanya' tak kunjung terlihat, gue memutuskan untuk mengikuti pemerintah selaku pemimpin. Jujur aja gue kurang terlalu ngerti tentang apa yang menjadi indikator hari lebaran akan tiba. Gue percayain sepenuhnya sama majelis sidang isbat di TV. Tapi tadi gue liat pas ada yang lagi ngomong, eh sebelahnya tidur... krik. What a way to convince millions of confused citizens, Sir. Namun, gue ga mau menjeneralisir satu ketololan itu dengan seluruh hasil keputusan sidang. Dengan kata lain, gue masih naro kepercayaan kepada bapak-bapak berjenggot itu. Entah tepat atau tidak prediksi mereka, setidaknya gue lepas tanggung jawab sama dosa kalo ternyata salah. Yang penting gue udah mengambil keputusan berdasarkan hati nurani gue pribadi. Gue bisa aja ngikutin Muhammadiyah untuk sholat Ied besok dan langsung nyantep hidangan lebaran dengan tidak berkepri-makanan-an kaya tahun-tahun sebelumnya. Tapi kenapa sekarang gue ngikutin pemerintah? Apa karena gue baru jadi Abang Jakarta dan bekerja di bawah ketek pemerintah jadi gue harus nurut sama mereka? Apa karena beberapa bulan kemarin gue kebiasaan untuk selalu memberikan citra baik pemerintah di depan masyarakat? Or simply because I want to show people where I stand? Gue ga tau. Mungkin aja salah satu di antaranya. Yang jelas, setidaknya gue punya keputusan personal dan ga mengusik keputusan orang lain.

Gue agak gerah ngeliat timeline Twitter malam ini. Hampir semuanya mendadak beringas pengen minta lebaran besok. Caci maki terus dilemparkan secara konstan ke arah bapak-bapak yang ngomongnya bertele-tele di TV itu. Seakan mereka udah mau keluar dari kandang yang sempit dan terbang bebas ke angkasa. Tapi ada juga yang adem ayem nunggu dengan tenang rapat isbat yang berlangsung cukup menegangkan dan mau nurut sama hasil NU. Ada juga yang ga peduli dan tinggal bandingin hasil rapat pemerintah dengan Muhammadiyah sesuka hati aja. Bukannya gue mau bikin kotak-kotak di antara orang-orang itu. Sejujurnya gue ga peduli mereka mau milih apa. Keputusan mereka juga ga berpengaruh apa-apa ke kehidupan gue. Tapi gue agak kesenggol saat kebebasan mereka ngetweet digunakan 'a lil bit over the edge'. Dibuat becandaan, ngata-ngatain agama, Tuhan, Nabi, dibikin jadi sex jokes, dan hal-hal lain yang gue rasa sih buat naikin rating dan nambah followers. #mulaifitnah #haha

Oiya, gue disini bukan jadi pembela Tuhan ya. Tuhan terlalu kuat dan agung untuk dibela. Atau pun pembela Islam. Gue ga se-insecure itu kok. Yang mau gue tekenin disini adalah kemampuan beberapa orang dalam menyikapi suatu masalah di lingkup publik yang cukup besar yang ternyata kurang bijaksana. Sesuatu yang niatnya becanda, tapi lama kelamaan makin ngeyel. Ditambah lagi dengan adanya troll-troll internet dengan akun anonimnya yang senantiasa disana untuk memprovokasi. Masih mending bisa baca orang-orang akademisi yang kita follow dengan tweetsnya yang cukup berbobot. Apa kabar mahasiswa-mahasiswa sotoy nan anarkis yang asal cablak tanpa pikir panjang mengeluarkan pendapat yang ternyata menyinggung beberapa kalangan orang yang lain?

Jijik gue sebenernya ngomong kaya gini. Karena gue sadar kalo gue masih jauuuuuuuuuuh dari sempurna dalam bidang per-ngetweet-dengan-benar-an. Dan gue bukan juga manusia yang cukup berakhlak baik dan mempraktekkan agama secara benar. Atau bisa dibilang bangsat. HAHAHA. Nah sebagai seorang bangsat (yang mencoba untuk berubah haha) gue bisa mengerti hati para bangsat-bangsat lain di luar sana. Tapi coba dong sekali-sekali agak ditahan amarahnya. Cuma sebulan doang kok. Bahkan belom nyampe sebulan malah. Malam tadi baru aja sahur dan puasa. Masa langsung jadi monster lagi? Tahan bentar lah. HAHAHA. Kedengeran munafik emang. Tapi coba bayangin kalo lo mikir PERSIS begitu dari bulan ke bulan. Udah ga jadi bangsat lagi toh? Semuanya bilang amin! AAAMIN!

Udah dulu deh komat-kamitnya. Sekali lagi bebas lepas terserah kalian mau berbuat apa. Tapi tolong pikirin perasaan orang lain karena kalian ga hidup sendiri. Kita makhluk sosial yang unyu dan bersahaja :) Mau lanjut browsing sampe sahur dan liat-liatin langit. Siapa tau tu hilal (apapun itu) nyangkut di genteng rumah gue.

p.s. Karena gue penasaran hilal itu kek gimana, akhirnya gue google. Dan sebelum gue dapet apa yang gue mau, gue berenti di gambar ini:
kalo hilal taunya kaya gini mah ga mungkin ga keliatan kali ya. dari awal puasa udah keliatan jelas mungkin.

2 comments