HOME     DANCE     F&B     FASHION     IDEAS     OUTFIT     MUSIC     PERSONAL     PORTFOLIO     TRAVEL

January 21, 2011

Kompleks Sarjana

Hari ini terhitung hari keempat memasuki semester 6 kuliah gue di jurusan Hubungan Internasional UNPAR. Udah banyak maba-maba seliweran yang makin membuat 'bau swasta' makin santer tercium bagi angkatan 2008. Ga berasa aja udah bentar lagi gue bakal sibuk ngurusin skripsi dan insya Allah bisa memboyong keluarga gue dari Jakarta ke Bandung untuk menyaksikan gue mengenakan toga di hari kemenangan gue sebagai mahasiswa. Prediksi sih sekitar 1-2 tahun lagi. Yaaa.. namanya juga masih perkiraan, segala sesuatu masih bisa terjadi. Walaupun gue udah ga sabar keluar dari lingkungan akademis yang udah gue jalani sebagai seorang manusia selama 16 tahun belakangan, gue ingin sebisa mungkin menikmati saat-saat ini. Periode dimana gue menjadi seseorang yang masih butuh diajar, dididik, dan dibimbing. Terus disuapi dengan segala macam hal yang mungkin gue ga suka caranya, tapi ironisnya gue membayar sejumput uang agar gue mendapatkan hal-hal tersebut.

So far so good lah di semester ini. Beberapa mata kuliah ada yang nyaman dimasuki (?), cuma pastinya juga ada beberapa pelajaran yang diajar dosen yang (sayangnya) kurang dapat dimasuki. (?) Dalam 4 hari ini harusnya gue udah masuk ke 6 kelas baru yang berbeda dan mendengar introduksi-introduksi formalitas dari para dosen tentang metode mereka mengajar serta apa sih sebenernya yang mau mereka ajarin. Cuma karena banyak faktor, seperti telat, dosennya ga masuk (mungkin masih liburan), dan cukup males denger nama dosennya, membuat gue ga mendatangi beberapa kelas. Khusus untuk faktor ketiga, gue akhirnya mengambil kelas di hari dan jam lain tak lain tak bukan karena rasa penasaran. Penasaran ingin tau apakah benar si oknum dosen 'ini' se-bangsat yang diisukan. Akhirnya setelah gue mempersiapkan mental baja serta sedikit latihan senyum di depan kaca, gue memberanikan diri untuk masuk ke kelasnya. Yak, beneran bangsat ternyata.

Mungkin gue terdengar kurang ajar dan ga tau diri dengan menyebut seorang dosen dengan istilah bangsat. Gue juga tau kalo itu adalah sebuah perilaku yang tidak terpuji, dan sudah otomatis, tercela. ~(-_-~) Ga mungkin sebuah instansi pendidikan formal dan legal mengajarkan muridnya untuk ngatain gurunya bangsat. Dari TK, SD, SMP, SMA, gue yakin pasti kita diajarin untuk sopan dan hormat pada para pengajar. CUMA, ada cumanya nih gede pula di kapitalin, pertanyaannya: pengajar yang kaya gimana dulu?

Sekarang gini ya, kita harus ingat satu hal: semua manusia terlahir dengan hak asasi yang meliputi banyak hal. Hak berbicara, berpendapat, berpartisipasi dalam proses hukum, dan hak-hak lain termasuk hak sepatu. (aduh maap jadi becanda lagi, ga tahan euy bacak kata 'hak') Ya ga usah di bahas lah bedanya pas orde lama, baru, reformasi. Intinya gue cuma mau bilang kalo kita, zaman sekarang terutama, boleh melakukan apapun yang kita mau asal bertanggung jawab dan ga melanggar hukum. Termasuk membenci seorang pengajar/guru/dosen yang kebetulan seorang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga kebetulan beberapa pahlawan itu ada yang ngeselin ampe pengen gue colok matanya. Pepatah yang bilang kalo, "Semakin kita membenci seorang guru, semakin susah kita menyerap ilmunya." menurut gue bener banget. YA IYALAH HELLOOO gimana juga caranya masukin omongan dia ke otak kalo masukin visual mukanya lewat mata aja susah banget karena terlalu jijik?! Kalo gue pribadi selama ada di kelas cenderung untuk bertindak timbal-balik. Kalo yang ada di depan gue baik, asik, demokratis, open-minded, berorientasi global, dan mengajar dengan tulus ikhlas, gue akan 7000% berusaha mati-matian untuk bisa menjadi pemenang di kelasnya. Cuma kalo yang di depan gue adalah seorang *censored*, *censored*, *censored*, son of a *beep*, ya maap-maap aja nih, gue akan hilang respek sama sekali.

Oiya, kalo ada seorang pengajar/guru/dosen yang baca tulisan ini gue minta maaf ya kalo menyinggung. But fuck yeah I meant what I said, you can fuck yourself if you're on of those bitches! I don't regret a single shit when I said that. Gini ya masbro, mbasist, kalian semua pasti pernah duduk di kursi itu kan? Kursi dimana kalian menjadi pihak yang harus (technically) menuruti semua pedoman dan petunjuk. Kalo cara nge-deliver hal-hal tersebut enak disantap mata, telinga, otak, dan hati, pasti kalian juga bakal enak kan nerimanya? Begitu juga kalo caranya 'kurang enak', nerimanya juga ogah-ogahan. Jadi hubungan sebab-akibat gitu deh. Ditambah lagi yang diajar itu membayar loh in case you forgot. Membayar uang iuran yang di beberapa tempat termasuk sangat mahal dan hampir ga masuk akal. Kalo gratis sih terserah lo deh mau ngapain. Their parents pay YOU, through the institutions, to teach their children in a 'good' way. It's YOUR job to find how 'good' it's gonna be. And It should better be literally good.

Para ekspert di bidang psikologi yang sering kita jumpai berwujud sebagai guru-guru konseling mungkin pernah suatu kali memberi saran, "Nak, kalo kamu ga suka sama satu guru, kamu sebaiknya melakukan observasi dari diri kamu terlebih dahulu. Kenali apa perbedaan cara kamu belajar dan cara beliau mengajar. Lalu kamu pasti akan menemukan solusi agar kamu bisa betah berada di kelasnya." Wah, gue udah khatam deh soal beginian. Gue istilahnya udah ngelewatin banyak jenis dan spesies guru dan dosen sepanjang gue hidup. Dari yang baik banget ampe ga tega ngeliatnya, sampe yang rajanya bangsat ampe ga tega juga ngeliatnya. Hanya saja, sekarang di umur gue yang makin uzur ini #lebay, gue merasa kalo gue bisa lebih menyikapi hal tersebut dengan lebih dewasa dan matang, sematang buah dada perempuan yang baru puber.

Dulu waktu jaman masih pake seragam, gue cenderung menyikapi masalah ini dengan radikal dan licik. Pokoknya gue menghalalkan segala cara biar gue bisa menaklukan semua raja bangsat tersebut. Kaya beberapa paragraf di atas yang agak emosyong ngomongnya. Namun gatau sekarang kenapa gue bisa lebih chilled down ngadepin seorang praktisi pendidikan berupa dosen, yang SEHARUSNYA mengajar layaknya seorang dosen mengajar mahasiswa dewasa yang ga perlu lagi dibentak-bentak layaknya anak sekolahan. Berhasil tidaknya mahasiswa kan ada di tangan mereka sendiri. Rumusnya kan: "Mau lulus cepet? Ya belajar." Dan sebenarnya para dosen tersebut bisa bersikap 'bodo-amat-suka-suka-lo-deh' di kelas, karena memang cara belajar di jenjang sekolah dan kuliah berbeda. Tugasnya kan mengajar materi yang sudah seharusnya diajarkan, kenapa ada aja yang sok-sok jadi polisi moral? Ngatur-ngatur mahasiswa berpakaian, berbicara, dan mengemukakan pendapat yang sering kali sangat bersifat subjektif serta ga relevan. Apa hubungannya sih otak dalam menyerap materi dengan baju yang dipake? Kan ga nyambung. Gue punya temen yang tattoan, tindikan, bajunya rock 'n roll banget tapi otaknya lancar banget kaya air terjun. I mean, I just don't get the point of this so-last-century way of thinking. Gue dari dulu juga yakin kalo para dosen bergelar S-lebihdarisatu pasti jauh lebih ngerti hal ini daripada gue yang masih bau kencur, lengkuas, dan kayu putih ini. Namun sayangnya masiiih ada aja yang tinggal di zaman kuda gigit paralon. Udah 2011 kali ah.

Intinya gue cuma mau menghimbau baik para dosen dan mahasiswanya agar introspeksi diri aja lah. Udah pada gede kan semuanya. Terutama mahasiswanya sih dalam menyikapi sikap-sikap 'ajaib' dosen, karena gue udah pernah jadi mahasiswa cuma gue ga pernah berada di posisi dosen. Sebisa mungkin kita pilih dosen yang berpandangan 'masa kini' lah yuk, ciri-cirinya gampang kok: yang sering menghargai pendapat/ide mahasiswa (seaneh apapun itu), sering mengajak diskusi (belajar dua arah), menghargai proses dan hasil, dan biasanya sih ngerti Microsoft Word 2007. Terus kalo udah terpaksa harus mentok ketemu sama setan, ya udah suck it up aja dulu sementara cari cara pindah kelas atau cari dosen baru. Lah iya dong kita punya hak buat mendapat fasilitas pendidikan yang nyaman. (haha dosen=fasilitas?) Cuma kalo udah ga bisa kemana-mana lagi, terjebak, terhenti perjuanganmu, bersabarlah. Terus cari cara lain, belajar dari tempat lain, cari kesempatan-kesempatan emas lain, jadilah cerdik! Saran gue, lo boleh dan normal untuk benci sama seorang dosen, cuma lo udah tolol kronis kalo lo ga bisa cari cara untuk dapet nilai A. Bubuhi terus perjuangan lo itu dengan itikad dan niat baik semata-mata untuk berhasil  menjadi seorang sarjana dan membanggakan keluarga serta negara. Ga perlu takut jadi koruptor di masa depan kalo lo sering nyontek di kelas. Kalo emang dasarnya seseorang udah baik pasti bakal baik terus, and vice versa. Walaupun kita jahat pun, masih banyak kesempatan kita untuk berubah menjadi lebih baik. Anggep aja dosen 'X' ini sebagai "tiang portal" lo buat masuk ke "Kompleks Sarjana". Kalo lo bawa motor/mobil, angkat tuh portal sekuat mungkin. Kalo jalan kaki ya loncatin aja. Kalo ada satpam minta bukain. Pokoknya apapun caranya. Cuma sekali lagi, harus dengan tanggung jawab dan niat tulus dan murni.

Gue ga ngerti bahasa yang gue gunain untuk kiasan masuk ke "Kompleks Sarjana" di atas. Cuma gue yakin kalian cukup pintar untuk mengerti maknanya. Karena saat kita lulus nanti pun, masih banyak 'kompleks' lain. Jauh lebih fana, jauh lebih licik. So, get used to it!

No comments

Post a Comment