A Letter To My Logistic Team

September 26, 2010

Masih belum meng-unpack tas carrier berisi baju kotor & sleeping bag, memakai kemeja & celana PDL kotor, muka matang kemerahan, serta masih pula dengan tumpukan tai selama 4 hari di rektum, akhirnya gue memutuskan untuk langsung menyalakan komputer setibanya di kostan. Gue masih bisa merasakan lengketnya esensi kekeluargaan FISIP UNPAR di acara Bakti Desa 2010, yang merupakan kali ke-3 bagi gue pribadi, selengket daki di badan dan tanah item dekil di ujung-ujung kuku gue sekarang. Dan kayanya tebakan kalian bener, gue agak sedikit mau curhat #ea HAHAHA sampah. Tapi bodo amat. Keep reading ya!

Cepet banget rasanya lebih dari 2 tahun lalu gue masih menjadi peserta Bakdes 2008 sebagai mahasiswa baru. Bakti Desa adalah sebuah acara tahunan yang merupakan rangkaian dari ospek fakultas FISIP Universitas Katolik Parahyangan. Acara ini berkonsep membantu sebuah desa untuk lebih berkembang sekaligus mengakrabkan mahasiswa baru dengan keluarga FISIP blablablabla. Kayanya gue cuma anak yang belum peduli apapun tentang FISIP. Saat itu gue ga peduli tentang makna dan tujuan Bakdes sebenernya dalam konteks 'bagian dari ospek fakultas'. Yang gue pikirin adalah gue akan sekuat tenaga membantu warga di desa tersebut dan pengen buru-buru pulang. Bahkan nama acara "Bina Desa" berubah pun kayaknya gue tau pas last minutes. Gue pun gak yakin gue inget tentang tahun itu. Yang sangat membekas di hati gue cuma satu: keikutsertaan gue dalam pembaktiaan pada desa tersebut masih kurang! Gue berjanji saat itu akan kembali sebagai seseorang yang lebih baik.

Jadilah tahun depannya gue menyantumkan nama di Logistik sebagai divisi pilihan. Selain gue tertarik dengan tingkah mereka yang loncat-loncat di panggung "Suka-Suka Night", gue tau kalo pekerjaan mereka itulah yang menjadi titik acuan keberhasilan suatu acara. And i dig that for sure! Bakdes 2009 berlangsung dengan gue sebagai seorang anggota logistik baru. Walaupun ekspektasi tidak begitu sesuai dengan realita, gue cukup enjoy menjalani pekerjaan logistik saat itu. Senang, puas, seru, namun belum cukup membekas di hati.
Logistik ga pernah memenangkan perang, tapi perang ga akan dimenangkan tanpa logistik!
Swasta Logistik
Tibalah tahun ke-3, masih menjadi staff logistik. Tapi staff paling senior di divisinya yang juga menjadi penanggung jawab gagal berhasilnya pekerjaan kami logistik, baik dalam target kami pribadi maupun panitia Bakdes 2010. Di tahun ini entah mengapa gue merasa lepas tiap menjalani rangkaian kegiatan logistik. Baik rapat, kemlog (kemah logistik), jamuan, dan yang lainnya hingga acara puncak yaitu Bakdes 2010 yang berlangsung 4 hari kemarin. Logistik 2008 dan 2009 tahun ini akhirnya membuat gue merasa kalau tanggung jawab itu membutuhkan niat yang murni dan jujur. Gue merasa mereka semua udah jadi keluarga gue. Ya emang banyak dari asu-asu logistik yang kelakuannya terkadang bangsat dan bikin naik pitam, cuma.. lagi-lagi.. entah mengapa.. gue sayang mereka semua.

Jujur, gue emang ga suka beberapa di antara mereka dan BAHKAN (maap bgt coy) gue masih ada yang lupa namanya HAHAHA 2009 sih yang cewe-cewe. Soalnya banyak sih, trus mukanya ada yang mirip-mirip, ditambah gue juga agak-agak punya short-term memory. Jadi.. sorry sisters kalo suka ketuker! HAHA. But that's not the point. Tadi malem semua itu udah jadi a big pile of shit. Gue udah ga peduli semuanya. Pelukan gue ke kalian semua semalem di depan api unggun sukses tsb udah menjadi klimaks kekeluargaan kita sebagai Logistik 2009-2010. Gue sayang kalian. Gue cinta kalian. Gue sedih udah ga bisa kerja bareng kalian lagi.

Empat hari kemarin udah semaksimal mungkin gue habisin sama kalian semua guys. Mulai dari dengerin mulut Ipul, Cecep, Ikbal, Iyus, dan barudak-barudak leutik Garut lainnya yang mulutnya belom pernah dicuci pake sabun, tanda bahwa Indonesia memang benar-benar butuh anggaran pendidikan yang dialokasikan merata ke seluruh negeri. Trus ngeplur jalan sambil ngeliat ibu-ibu berjilbab dengan tete terburai menyusui anaknya dari jam 7 pagi hingga 5 sore, ngangkut pasir & semen bareng NENEK-NENEK dan BALITA (this one was so brutal), naik tronton bareng, diriin, robohin, dan tidur bareng di pleton tercinta, bakar api unggun kecil buat menghangatkan kita, motong kayu bakar, nahan berak 4 hari, becek-becekan, makan baso Bu Lurah & baso depan Basecamp, nyusun kayu bakar buat api unggun, sebisa mungkin nahan amarah pas nutupin kayu-kayu tsb pake terpal dari amukan hujan badai, nunggu maba dateng pas inisiasi, buka terpal, nyalain obor, lempar ke kayu bakar, meledak, nyala, asap api unggun terbang ke udara sambil bernyanyi Labapaca, pelukan, nangis.. semuanya bareng kalian, Logistik.

Untuk kesekian kalinya gue gatau kenapa gue bisa segini mellownya. Sebenernya masih ada 7000 trilyun lagi hal-hal yang pengen gue tulis di sini tentang kesan gue selama bersama kalian. Tapi terlalu sayang rasanya kalo diumbar semua tanpa ada kenangan yang tersisa. Trus asal kalian tau, gue sebenernya bawa kamera saku andalan untuk mengabadikan kebersamaan kita yang terakhir di Bakdes. Cuma gue urungin niat tersebut karena (selain ribet karena kerjaan banyak) gue pengen meresapi tiap tawa, tangis, emosi, amarah, dan segala ketidaksempurnaan kita kemarin ke setiap inci tubuh gue. Gue putuskan untuk ga mengambil gambar sedikitpun. Gue ingin ini ada di ingatan gue. Selamanya.

Maaf gue ga bisa bikin sebuah tulisan penuh kata-kata puitis yang sok-sok keren tai gitulah, semua yang gue tulis ini langsung dari hati gue. Ga pake editan. Ga pake review ulang. Semua tumpah riweuh. Buat Agung korlogku, 2008 yang udah nemenin gue selama 2 tahun, 2009 yang bakal gue kangenin banget, terima kasih. Terima kasih banyak. Maaf gue ga bisa ngasih lebih. Ini udah semaksimal yang gue bisa kasih. Cuma sebuah tulisan sampah. Tapi ini semua sampah dari hati gue. Maaf kalo gue banyak salah sama kalian. Kalian.. akan selalu ada tempat khusus di hati gue. Apapun yang terjadi nanti, walaupun nantinya kita bakal sering ketemu di kampus, gue mohon satu hal: Jangan pernah lupain malam terakhir kita kemarin! Sukses kita nantinya juga karena kita satu sama lain. Sukses dan gagalnya gue ke depan juga berkat kalian.

Sekali lagi terima kasih banyak udah membuat gue menjadi swasta logistik dengan kenangan indah. Indah banget. Terakhir, buat semua anak logistik yang baca ini:
When the others go down, we don't! As long as we push ourselves to the limit, we will always stand along together! FISIP! LOGISTIK! LOGISTIK! LOGISTIK!
Minggu, 26 September 2010, 18:55 WIB
Rahmat Chaniago (Log-09-320) 2009-2010

You Might Also Like

0 comments