HOME     DANCE     F&B     FASHION     IDEAS     OUTFIT     MUSIC     PERSONAL     PORTFOLIO     TRAVEL



November 3, 2009

Rabbit oh Rabbit

pernahkah terpikir oleh anda, bahwa sebenarnya beberapa hal yang telah kita pegang sekian lama sebagai prinsip dapat dengan mudahnya hancur dan bobrok tanpa anda sendiri ketahui?

mungkin pada awalnya anda akan bersikukuh bahwa anda kuat, tegar, prinsipil, konsisten, dan sikap-sikap lain yang menandakan 'keberpihakan' diri anda terhadap prinsip-prinsip yang anda yakini tersebut.

namun ironisnya, setelah anda mengambil pola pikir menentang seperti tadi anda malah akan semakin mudah untuk melonggarkan tali tebal dan keras pengikat ego anda tanpa anda sadari.

sebagai contoh, saat seekor kelinci mengungguli seekor kura-kura dalam lomba lari, si kelinci berprinsip bahwa dialah sang pemenang. p-e-m-e-n-a-n-g.
winner. tidak lebih, tidak kurang. tetapi saat dia semakin bersikeras meng-iya-kan perasaan kemenangan tersebut, si kelinci tersentak melihat kura-kura yang ternyata berjalan santai dengan teman-teman dari kebun binatang yang lain. seperti kancil, monyet, burung, dan hewan-hewan lain. kura-kura tersebut (yang juga telah secara tidak sadar merubah pola pikir/prinsip sebagai pecundang menjadi seorang yang mudah bergaul) tidak sedikitpun mengingat bahwa dia sedang ada dalam suatu perlombaan. dia dengan santainya merubah suara dalam dirinya selama ini yang berbunyi "pecundang" dengan berjalan bersama, mengobrol, merangkul, makan bersama, dan bersosialisasi secara intens dengan hewan lain. bagaimana bisa? bisa saja. karena saat ditanyakan kepada kura-kura tersebut, dia menjawab bahwa kunci lunturnya prinsip tersebut adalah kenyamanan. ya, si kura-kura tersebut merasa nyaman dengan mind-set barunya tentang suatu hal (dalam kasus ini konteksnya menjadi mudah bergaul) yang membuatnya tidak begitu memperdulikan pendapat orang tentang stereotype bahwa kura-kura = lamban/pecundang. bukan seekor hewan yang mudah bergaul. di atas kertas apa yang dilakukan si kura-kura menentang pemahaman yang sudah ajek di masyarakat awam. namun kura-kura tidak peduli karena (sekali lagi) rasa nyaman tersebut.

kembali kepada kelinci di depan. sambil menatap kosong, kelinci tersebut berhenti berlari dan berjalan mendekati pohon untuk duduk, lalu berpikir. bagaimana bisa dirinya yang sebegitu hebatnya, bisa kalah dalam permainan pemikiran?
(sang kelinci masuk dalam tahap ketidaksadaran untuk merubah prinsipnya) kura-kura lamban itu saja dapat mengambil keputusan ekstrim untuk merubah hal yang 'tabu' hanya dengan alasan 'nyaman'. kenapa dia tidak bisa? kenapa dia terus berjalan bahkan berlari dalam kenyataan -yang sebenarnya tidak begitu jelas- bahwa ia seekor kelinci yang selalu menang? apa dia dalam hal ini telah kalah dengan kura-kura? apakah dia nyaman dengan hal yang selama ini dia percayai? (sang kelinci makin goyah)

setelah menimbang-nimbang, kelinci tersebut mengambil keputusan. dia tidak mau mengikuti mentah-mentah apa yang dilakukan oleh kura-kura dengan menjual harga dirinya dalam bentuk perubahan prinsip. namun dia mencari alternatif lain yang juga membuatnya nyaman, namun tidak menghilangkan hal ajek yang sudah sebelumnya dan sekian lama dia pegang dan percayai. akhirnya dia mendapati bahwa dirinya juga seekor kelinci penolong. seekor kelinci yang tanpa pamrih membantu hewan lain yang membutuhkan pertolonganya. seperti membawa hewan lain ke dokter hewan dengan cara digendong (karena lari sang kelinci sangat cepat), mengambil air di sumur yang jauh untuk tetangganya, atau menjadi pengajar berjalan bagi anak-anak hewan yang baru lahir.

semua hal tersebut dirasakan oleh kelinci sebagai hal yang dia kuasai dan dia rasakan sebagai kenyamanan bagi jiwanya tanpa harus menghilangkan prinsipnya sebagai pemenang. kelinci tersebut merasakan kenyamanan yang sangat besar jikalau dapat menjadi kedua sosok tersebut.

oke. jika kita lihat di atas memang sangat manis sekali kelinci tersebut menjadi penolong sekaligus pemenang, tidak seperti kura-kura yang sudah menjadi hewan yang mudah bergaul namun tidak pecundang lagi semata-mata karena faktor kenyamanan. NAMUN, faktanya di sini adalah kura-kura dan kelinci sama-sama MERUBAH prinsip/pola pikir/kepercayaan mereka. ya mereka merubahnya. walaupun berbeda bagi kelinci yang menambahkan satu lagi prinsip yang dia 'nyamani'. tetap saja BERUBAH. tanpa mereka sadari.

sekarang pertanyaanya, haruskah kita mempertahankan hal-hal yang kita yakini sejak dulu karena kita sudah terbiasa dan agaknya sangat gengsi untuk mematahkannya? atau kita merubah/menambah/mengurangi atau melakukan apapun yang menyebabkan suatu keutuhan prinsip tersebut berubah? sekalipun karena rasa nyaman?

anda sendiri yang berhak menentukan.

No comments

Post a Comment